Berkat Ikut Pelatihan di RKG, Sopir Angkudes ini Sukses Jadi Juragan Tempe

Berkat Ikut Pelatihan di RKG, Sopir Angkudes ini Sukses Jadi Juragan Tempe

Komoditas tempe sudah familiar sehari-hari bagi Kasimin, warga Desa Kapung RT 01, RW 01, Kecamatan Tanggungharjo. Namun demikian, selama ini tidak pernah terlintas dalam benak pria berusia 50 tahun itu untuk berprofesi jadi pembuat tempe. Seperti yang dijalani saat ini.
Selama 10 tahun terakhir, Kasimin sudah punya pekerjaan tetap. Yakni, sebagai sopir angkudes jurusan Tanggungharjo-Gubug. Meski penghasilannya tidak terlalu besar, namun masih bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga dan menyekolahkan ketiga anaknya.
Kasimin beralih profesi jadi perajin tempe sekitar sembilan bulan lalu. Tepatnya, tidak lama setelah ia dapat carteran rombongan kelompok tani di desanya yang akan mengikuti pelatihan pembuatan tempe. Pelatihan dilangsungkan di Rumah Kedelai Grobogan (RKG) awal Desember 2016.
Setelah sampai di RKG, Kasimin sebenarnya ingin menunggu di dalam mobil tua miliknya yang biasa dipakai jadi angkudes, hingga pelatihan usai. Namun, mendadak timbul keinginan untuk ikut bergabung mengikuti pelatihan.
“Daripada menunggu lama di luar, saya kemudian minta izin pada pimpinan rombongan untuk mengikuti pelatihan. Ternyata saya diizinkan ikut,” kata mantan ketua RT di kampungnya itu.
Menurut Kasimin, selama pelatihan, ia menyimak dengan serius materi yang disampaikan. Termasuk materi pelatihan proses pembuatan tempe dari awal sampai akhir diperhatikan dengan cermat.
Setelah pelatihan berakhir, semua peserta termasuk Kasimin dapat oleh-oleh berupa tempe yang sudah jadi. Selain itu, ada oleh-oleh lagi berupa beberapa kilogram kedelai lokal varietas Grobogan untuk bahan praktek pembuatan tempe di rumah bagi peserta pelatihan.
Keesokan harinya setelah ikut pelatihan di RKG, Kasimin mencoba membuat tempe dari kedelai lokal tersebut. Hasil uji coba perdana itu akhirnya berhasil. Meski begitu, Kasimin belum merasa puas dan melakukan percobaan lagi sampai beberapa kali.
Setelah produk yang dihasilkan dirasa sudah sesuai standar, Kasimin mulai memasarkan tempe bikinannya pada tetangga sekitar.
Pemasaran tempe produksi Kasimin ternyata mendapat respon positif karena selalu habis dibeli orang. Melihat peluang usaha yang menjanjikan ini, Kasimin akhirnya nekat memutuskan untuk pensiun jadi sopir angkudes dan beralih profesi jadi perajin tempe.
Seiring perjalanan waktu, produksi yang dihasilkan terus meningkat. Saat ini, Kasimin sudah bisa menghabiskan kedelai sekitar 25 kg per hari untuk membikin tempe. Selain dipasarkan pada tetangga, tempe itu juga diedarkan pada masyarakat desa di sekitar tempat tinggalnya.
“Setelah nekat ganti profesi, nama saya sekarang juga ikut berubah. Kalau dulu orang panggil saya Pak Min Sopir, sekarang ganti manggilnya Pak Min Tempe,” katanya sembari tertawa.

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *