Budidaya Kembang Kol di Kecamatan Brati

Komoditas kembang kol ternyata tidak hanya bisa tumbuh di dataran tinggi saja. Pada daerah dataran, seperti di Grobogan, kembang kol juga bisa tumbuh subur. Seperti yang terlihat di areal sawah di Dusun Permas, Desa Kronggen, Kecamatan Brati, Grobogan.
Tanaman kembang kol tersebut hamparannya cukup luas, sekitar 2.500 meter persegi. Hamparan kembang kol tersebut milik petani setempat bernama Rofiq (35).

Di areal persawahan di sebelah timur dusun itu hanya lahan milik Rofiq saja yang ditanami kembang kol. Areal sawah disekitarnya kebanyakan ditanami jagung dan kacang hijau.

“Baru saya saja yang menanam kembang kol. Petani lainnya memilih tanam palawija, seperti biasanya,” jelas Rofiq saat ditemui di areal sawahnya, Jumat (15/9/2017).

Rofiiq mengaku sudah punya rencana untuk menanam kembang kol saat bulan puasa lalu. Namun, persiapan lahan baru dikerjakan setelah hari raya Idul Fitri.

Lahan yang dimiliki Rofiq sebenanya cukup luas tetapi hanya sekitar 2.500 meter persegi saja yang digunakan untuk uji coba. Setelah masa persiapan selesai, benih kembang kol mulai ditanam di lahan.

Beberapa hari kemudian, benih yang ditanam mulai tumbuh subur. Namun, dalam perjalanan, sempat ada hambatan. Yakni, munculnya hama ulat yang melahap daun kembang kol. Namun, kendala itu akhirnya bisa diatasi setelah mencari informasi cara penanganan dan mendapat bimbingan penyuluh dari Dinas Pertanian Grobogan.

Setelah berusia 55 hari, sebagian tanaman sudah menghasilkan kembang kol dengan ukuran cukup besar. Hasilnya, tidak kalah jauh dengan kembang kol yang ditanam di dataran tinggi. Kondisi ini membuat Rofiq merasa puas.

Beberapa hari lalu, Rofiq dibantu beberapa orang pekerja mulai panen kembang kol. Panen perdana dapat kembang kol hampir satu kuintal. Hasil panen pertama sudah ditampung pembeli dengan harga Rp 9.000 per kilo.

Saat ini, Rofiq kembali panen kembang kol untuk kedua kalinya. Hasil panen kedua bisa dapat hampir empat kuintal. Sayangnya, saat panen kedua harga jualnya turun jadi Rp 7.000 per kilo.

“Meski turun, masih ada keuntungan kok. Apalagi, tanaman belum seluruhnya dipanen. Saya perkirakan masih panen dua sampai tiga kali lagi. Panen kembang kol ini tidak bisa dilakukan serempak seperti panen jagung atau padi. Tetapi diambil yang bunganya sudah maksimal pertumbuhannya,” jelasnya.

Rofiq mengaku, ia sengaja menanam kembang kol lebih disebabkan rasa penasaran. Selama ini, kembang kol hanya ditanam oleh petani di dataran tinggi saja.

Sementara di dataran rendah jarang sekali petani ditemukan tanaman kembang kol di areal sawah. Lebih-lebih, pada saat musim kemarau seperti sekarang.

Padahal, pangsa pasar kembang kol di Grobogan dinilai masih cukup menjanjikan. Hal itu dilihat dari banyaknya menu makanan yang menggunakan bahan kembang kol di berbagai rumah makan maupun saat pesta hajatan.

“Dari gambaran ini, akhirnya saya nekat pingin nanam kembang kol. Saya mau coba apakah tanaman yang banyak ditemukan di dataran tinggi itu bisa tumbuh dilahan keras pada dataran rendah seperti disini. Ternyata bisa berhasil,” jelas bapak satu anak itu.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *