Budidaya Waluh Masih Diminati Petani

Budidaya Waluh Masih Diminati Petani

Keberadaan tanaman waluh masih mudah ditemukan di areal sawah diwilayah Kabupaten Grobogan. Soalnya, sampai saat ini masih banyak petani yang menanam waluh di berbagai kecamatan. Budidaya waluh ini biasanya dilakukan dengan sistim tumpangsari dengan tanaman palawija, utamanya jagung.

“Hampir setiap tahun, saya selalu nanam waluh. Lahan yang saya tanami waluh luasnya sekitar 0,5 hektar,” kata Darmanto, petani di Desa Godan, Kecamatan Tawangharjo.

Menurutnya, budidaya waluh biasanya dilangsungkan saat masa marengan/apitan atau dalam kurun waktu bulan Januari-Maret. Budidaya waluh dilakukan dengan cara tumpangsari pada tanaman jagung atau jagung manis. Biasanya benih waluh ditanam saat tanaman jagung sudah berumur 20-30 hari.

Hasil budidaya waluh selama ini dinilai cukup menggembirakan dan pemasarannya mudah karena sudah ada pengepul yang menampung hasil panen. Harga jual waluh biasanya ditentukan dari ukuran fisiknya. Untuk waluh ukuran super, harganya bisa sampai Rp 4 ribu per buah. Sementara waluh ukuran besar Rp 3 ribu dan ukuran tanggung Rp 2.500.

Ketua Kelompok Tani Nedyo Mulyo Desa Godan Suhadi menambahkan, selain hasilnya cukup bagus ada alasan lain yang membuat petani masih suka menanam waluh. Yakni, biayanya murah dan perawatannya tidak begitu sulit. Disamping itu, tanaman waluh juga relatif aman dari serangan hama.

“Faktor lainnya, hasil panen mudah sekali dijual. Satu hal lagi, buah waluh ini tahan lama dan tidak mudah busuk,” katanya. (Agung N)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *