Embung dan Dam Parit

36dam-parit

Embung adalah bangunan konservasi air berbentuk kolam/cekungan untuk menampung air dari hujan, parit atau sungai kecil, mata air serta sumber air lainnya untuk mendukung usaha pertanian pangan/ hortikultura), perkebunan dan peternakan.
Dam parit adalah suatu bangunan konservasi air berupa bendung kecil pada parit – parit alamiah atau sungai – sungai kecil yang dapat menahan air dan meningkatkan tinggi muka air untuk disalurkan sebagai air irigasi.
Tujuan :

  1. Menampung air hujan dan aliran perukaan (run off) pada wilayah sekitarnya serta sumber air lainnya yang memungkinkan seperti mata air, parit, sungai – sungai kecil dan sebagainya.
  2. Menyediakan sumber air sebagai suplesi irigasi untuk tanaman pangan, hortikultura semusim, tanaman perkebunan semusim dan peternakan.

Syarat Teknis
1. Embung

  • Di daerah atau sekitar daerah pertanian/ perkebunan/ peternakan yang memerlukan pasokan air dari embung sebagai suplesi air irigasi.
  • Terdapat sumber air yang dapat ditampung baik berupa aliran permukaan saat hujan, mata air, parit atau sungai kecil dengan volume air yang memadai.
  • Untuk embung galian yang sumber airnya dari limpasan air hujan (run off) harus mempunyai daerah tangkapan air, agar volume air yang masuk ke embung mencukupi.
  • Terdapat alur/ cekungan – cekungan tempat melintas/ berkumpul air, sehingga lokasi tersebut secara alami sudah kedap air, memudahkan menampung air dan tidak banyak memerlukan biaya untuk galian dan pembuatan tanggul

2. Dam Parit

  • Terdapat parit – parit alamiah atau sungai – sungai kecil dengan debit air yang memadai untuk keperluan irigasi.
  • Terdapat saluran air untuk menghubungkan dam parit ke lahan usahatani yang akan diairi.
  • Bila belum/tidak ada saluran, maka petani bersedia membuat saluran air secara partisipatif.
  • Letak dam parit harus memperhatikan kemudahan dalam membendung dan memdistribusikan air serta struktur tanah yang kuat untuk pondasi bendung.

Syarat Baca Selengkapnya

Menuju Kedaulatan Pangan Nasional

99pak-edi

Jumlah dan pertambahan penduduk Indonesia yang tinggi merupakan prioritas utama dalam mengembangkan pertanian Indonesia, khususnya pangan.  Dengan adanya dinamika di tingkat global akibat dari perubahan iklim, kelangkaan energi serta finansial, telah merubah gagasan bahwa masalah pangan tidak dapat dipecahkan dengan hanya memperbaiki sistem distribusi pangan global, tetapi masing-masing negara harus memperkuat ketahanan pangannya.

Dalam upaya mencapai kedaulatan pangan, pembangunan pertanian saat ini Baca Selengkapnya

Agar Anakan Padi lebih banyak

Ukuran Pemupukan anakan padi lebih banyak Faktor-faktor yang mempengaruhi anakan Padi ;
A. Varietas, ada beberapa variatas yang jumlah anakan lebih banyak serta lebih sedikit.

B. Waktu Tanam, waktu tanam atau umur bibit mempengaruhi jumlah anakan, tanam menggunakan

  • umur bibit lebih mudah biasanya anakan menjadi lebih banyak karena padi mulai umur 5 hari
  • sudah mulai membentuk tunas baru yang disebut anakan, sehingga apabila keadaan normal
  • pesemaian umur 10 hari sudah membentuk tunas/anakan kira-kira 2-3 batang.

C. Cara Tanam, tanam yang terlalu dalam atau kedalaman lebih dari 2 Cm anakan lebih sedikit,

  • yang paling baik tanam padi dengan kedalaman 1 cm dengan akar yang terbenam.
  • Jarak Tanam semakin lebar anakan semakin banyak 22 X 22 cm atau 25 x 25 cm, lebih baik
  • menggunakan sistim tanam jajar Legowo ( 1:2 ) atau (1 : 4)

D. Pengairan, anakan padi akan terbentuk apabila tidak terendam air terus menerus, sehingga
sebaiknya tanaman padi harus ada pengurangan air hingga Baca Selengkapnya

Namanya Galur Sukarno

Kesiapan Kabupaten Grobogan dalam mendukung program P2BN Surplus 10 juta ton pada tahun 2014 semakin mantap dengan ditemukannya varietas padi baru dengan produktivitas tinggi yang dapat mencapai 9 ton/hektar, varietas baru ini sementara diberi nama Galur Sukarno. Nama padi ini diambil dari sang penemu, Adalah Sukarno seorang ketua kelompok tani Sido Makmur desa Tarub Kecamatan Tawangharjo Kab.Grobogan yang pertama kali menemukan padi dengan karakteristik yang belum pernah dia lihat.

Awalnya Sukarno menanam Baca Selengkapnya

Menjadi Jutawan dari Budidaya Melon

 

Melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor:60/Permentan/OT.140/9/2012 dan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 60 Tahun 2012, pemerintah melakukan pengaturan impor terhadap 13 jenis produk hortikultura, yaitu enam jenis buah-buahan (durian, nanas, melon, pisang, mangga, dan pepaya), 4 jenis sayuran (kentang, cabai, kubis, dan wortel) dan tiga jenis bunga (krisan, anggrek, dan hellinica). Dengan ini pemerintah memberlakukan pengaturan impor produk hotikultura sebagai upaya untuk Baca Selengkapnya

Embung dan Dam Parit

Embung adalah bangunan konservasi air berbentuk kolam/cekungan untuk menampung air dari hujan, parit atau sungai kecil, mata air serta sumber air lainnya untuk mendukung usaha pertanian pangan/ hortikultura), perkebunan dan peternakan. Dam parit adalah suatu bangunan konservasi air berupa bendung kecil pada parit – parit alamiah atau sungai – sungai kecil yang dapat menahan air dan meningkatkan tinggi muka air untuk disalurkan sebagai air irigasi.
Tujuan :

  1. Menampung air hujan dan aliran perukaan (run off) pada wilayah sekitarnya serta sumber air lainnya yang memungkinkan seperti mata air, parit, sungai – sungai kecil dan sebagainya.
  2. Menyediakan sumber air sebagai suplesi irigasi untuk tanaman pangan, hortikultura semusim, tanaman perkebunan semusim dan peternakan.

Syarat Teknis
1.   Embung

  • Di daerah atau sekitar daerah pertanian/ perkebunan/ peternakan yang memerlukan pasokan air dari embung sebagai suplesi air irigasi.
  • Terdapat sumber air yang dapat ditampung baik berupa aliran permukaan saat hujan, mata air, parit atau sungai kecil dengan volume air yang memadai.
  • Untuk embung galian yang sumber airnya dari limpasan air hujan (run off) harus mempunyai daerah tangkapan air, agar volume air yang masuk ke embung mencukupi.
  • Terdapat alur/ cekungan – cekungan tempat melintas/ berkumpul air, sehingga lokasi tersebut secara alami sudah kedap air, memudahkan menampung air dan tidak banyak memerlukan biaya untuk galian dan pembuatan tanggul

2.   Dam Parit

  • Terdapat parit – parit alamiah atau sungai – sungai kecil dengan debit air yang memadai untuk keperluan irigasi.
  • Terdapat saluran air untuk menghubungkan dam parit ke lahan usahatani yang akan diairi.
  • Bila belum/tidak ada saluran, maka petani bersedia membuat saluran air secara partisipatif.
  • Letak dam parit harus memperhatikan kemudahan dalam membendung dan memdistribusikan air serta struktur tanah yang kuat untuk pondasi bendung.

Syarat Baca Selengkapnya

Lembara Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3)

Program pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) menjadi salah satu strategi pembangunan pertanian yang dirintis mulai tahun 1991, sebagai upaya untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan pengangguran di pedesaan. Program LM3 dirancang untuk memberdayakan kelembagaan keagamaan seperti Pondok Pesantren, Paroki, Seminari, Vihara, Pasraman, Subak, dalam pengembangan usaha agribisnis di pedesaan.

Program ini diharapkan dapat merangsang tumbuh dan berkembangnya Baca Selengkapnya

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan bentuk fasilitasi bantuan modal usaha untuk petani anggota, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani yang dikoordinasikan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) merupakan kelembagaan tani pelaksana PUAP untuk penyaluran bantuan modal usaha bagi anggota. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pelaksanaan PUAP, Gapoktan didampingi oleh Tenaga Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Baca Selengkapnya

Jangan Bakar Jerami !!

Pemandangan jerami yang dibakar masih banyak terlihat disana-sini disetiap musim panen padi tiba, Jerami  yang merupakan limbah pertanaman padi, merupakan material yang potensial dan mudah didapatkan sehingga dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber pupuk bagi tanaman.  Penggunaan jerami padi, juga sangat berpotensi untuk digalakkan sebagai sumber bahan organik insitu di lahan  persawahan. Namun kadar hara jerami, terutama N sangat rendah, dan agak sukar lapuk. Akan tetapi jerami mengandung silikat (Si) Baca Selengkapnya