Jambu Citra

Pengembangan Jambu Citra di Kabupaten Grobogan pada tahun 2016 mencapai luas tanam 40.162 pohon. Produktifitas 3,25 kw/pohon terdapat di Kecamatan Tegowanu, Gubug, Wirosari, Tawangharjo, Purwodadi.

Kontak Person :

Musyafak : 085290186696

Edy Wuryanto :081325728931

Terong Grobogan

Terong di Kabupaten Grobogan dikenal dengan ciri khas warna hijau dan berukuran besar. Pada tahun 2016 terong ini telah resmi dilepas dengan nama Terong Varietas Grobogan. Dibudidayakan pada musim kemarau terdapat di Kecamatan Purwodadi, Gubug, Tegowanu, Grobogan, Penawangan, Tawangharjo, Toroh dan Brati. Rata – rata luas panen 3 tahun terakhir mencapai 160 ha dengan produktifitas 53 kw/ha.

Kontak Person

Kusno : 085226463646

Nurman Sujoko : 081390947424

Budidaya Pisang

  1. SYARAT TUMBUH

Dengna pertumbuhannya yang sangat cepat dan terus menerus, yang akan mengakibatkan hasil yang tinggi, pisang memerlukan tempat tumbuh di iklim tropik yang hangat dan lembap. Suhu merupakan factor utama untuk pertumbuhan.Di sentra-sentra produksi utamanya suhu udara tidak pernah turun sampai dibawah 150 C dengan jangka – waktu yang cukup lama.Suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah sekitar 270  C, dan suhu maksimum 380 C. di dataran tinggi daerah ekuator, pisnag Baca Selengkapnya

Bawang Merah

Bawang Merah dibudidayakan di derah pengairan tetapi juga ada yang di sawah tadah hujan sistem sumur pantek. Yang baru berkembang di daerah Kabupaten Grobogan adalah Bawang Merah Asal Biji ‘TSS’. Rata – rata luas panen di Kabupaten Grobogan 3 tahun terakhir mencapai 735 ha dengan produktifitas 95,80 kw/ha terdapat di Kecamatan Toroh, Tanggungharjo, Klambu, Penawangan, Gubug, Godong, Wirosari dan Purwodadi

Kontak Person

Tri Joko Purnomo : 081326106577

Kurdi : 081326598035

Melon

Varietas melon yang berkembang pesat di Kabupaten Grobogan yaitu Varietas Action, Fresh, Star, Sakata, Kinanti dan Rock Melon pada tahun 2016 luas panen 665 ha dengan produktifitas 167,7 kw/ha terdapat di kecamatan Penawangan, Toroh, Klambu, Gabus dan Brati.

Kontak Person :

MS. Marjan : 081225521277

Sutiyo : 081325672316

Pisang

Di Kabupaten Grobogan terdapat varietas Raja Bulu, Kepok dan Ambon. Varietas ini berkembang di semua kecamatan di Kabupaten Grobogan luas panen tahun 2016 mencapai 354.480 pohon dengan produktifitas 0,18 kw/pohon.

Kontak Person :

Dody Setiawan : 081325908867

Ngadiman : 081325770870

Cabai

Cabai merah dan cabai rawit hampir di semua kecamatan di Kabupaten Grobogan. Luas panen tahun 2016 mencapai 689 ha dengan produktifitas 111 kw/ha terdapat di kecamatan Tegowanu, Kradenan, Geyer, Toroh, Ngaringan, Klambu, Tawangharjo, Gubug dan Brati.

Jalil : 085225544564

Rofik : 085226007169

Semangka

Varietas semangka yang berkembang di Kabupaten Grobogan antara lain yaitu Varietas Inul Black Orange,Kemuning,Sun Flower dan Jelita rata – rata 3 tahun terakhir luas panen mencapai 521 ha dengan produktifitas 171 kw/ha di Kecamatan Penawangan, Toroh, Godong dan Ngaringan

HARAPAN BARU DI PEMERINTAHAN YANG BARU

Indonesia telah memiliki seorang pemimpin baru, Presiden Joko Widodo, dengan segenap hiruk pikuk proses politiknya. Presiden ketujuh negeri yang kaya raya ini pun juga sudah menyusun perangkat kerja yang diberi nama “Kabinet Kerja”.

Sesuai dengan namanya, maka mindset yang ditanamkan oleh presiden kepada seluruh tim kabinetnya adalah “kerja, kerja, dan kerja”. Tidak ada waktu lagi untuk bersantai atau sekedar duduk sejenak ‘menikmati’ kursi baru seorang menteri, semua diminta langsung bekerja sebagai sebuah tim yang membawa visi misi presiden, bukan visi misi masing-masing kementerian, dan melepaskan egosektoral yang kerapkali menjadi penghalang.

Pun demikian untuk urusan pertanian. Presiden Jokowi telah mempercayakan Amran Sulaiman untuk mengomandani salah satu sektor penting di Indonesia ini. Amran sendiri memiliki latar belakang sebagai seorang pengusaha. Ia merupakan pendiri dan CEO Tiran Group yang memiliki berbagai macam usaha, mulai dari pabrik gula, kebun kelapa sawit, hingga pertambangan.

Di awal kerjanya, Amran pun langsung menargetkan Indonesia harus bisa berswasembada pangan dalam empat tahun ke depan. Menurutnya, dengan melakukan akselerasi program-program yang ada, maka komoditas pangan utama, yaitu: beras, jagung, kedelai, dan gula, akan mampu berswasembada dalam waktu tiga atau empat tahun.

Untuk mencapai target itu, Amran menekankan pada sejumlah hal yang akan menjadi kuncinya. Di antaranya adalah: penyediaan lahan, peningkatan infrastruktur irigasi, penyediaan pupuk dan bibit, serta aspek pascapanen yang menyangkut kepastian pasar.
Selain itu, peran penyuluh dalam pengawalan dan penyampaian teknologi kepada petani juga akan lebih ditingkatkan. Menurut Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian, Winny Dian Wibawa, idealnya terdapat satu penyuluh untuk satu desa yang akan melatih dan membina kelompok tani yang ada di masing-masing desa.

Meski demikian, pekerjaan untuk memajukan pertanian merupakan tanggung jawab semua stakeholder, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengajak semua stakeholder, mulai dari petani (baik skala kecil maupun skala perkebunan), pengusaha sarana produksi pertanian (benih, pupuk, pestisida, mekanisasi pertanian), collector, hingga para akademisi, dalam sebuah koordinasi rutin untuk bersama-sama bergerak memajukan pertanian Indonesia.

Semoga dengan pemerintahan yang baru dengan kabinet kerjanya itu, sektor pertanian Indonesia yang menjadi tulang punggung kebutuhan pangan rakyatnya bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bukan hanya sekedar mandiri, tapi juga bisa berdaulat dalam hal pangan.

Terlebih lagi, Indonesia sendiri melalui Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) telah meratifiksi pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015. Dengan diberlakukannya MEA/AEC itu maka akan tercipta pasar tunggal regional yang di dalamnya terdapat arus bebas lalu lintas barang, jasa, investasi, dan modal. Pergerakan pelaku usaha dan tenaga kerja pun juga akan bebas, tidak ada lagi sekat antar negara di kawasan ASEAN.

Sektor pertanian sendiri yang masuk dalam 12 sektor prioritas dalam implementasi AEC 2015 dituntut untuk bisa memiliki daya saing yang lebih tinggi agar bisa bersaing dan memanfaatkan peluang sekaligus keuntungan dari AEC itu sendiri. Pembangunan pertanian dituntut lebih masif lagi untuk mendongkrak kapasitas produksi, kualitas pengetahuan, dan permodalan agar Indonesia tidak bergantung pada impor. Petani sendiri selayaknya harus mendapat perlindungan dengan menerapkan tarif maksimal untuk produk-produk impor. Selamat bekerja Pak Presiden, selamat bekerja Bapak Menteri Pertanian!!.

 Majalah Abdi Tani edisi 54

Beras Hitam, Nasinya bercitarasa Bangsawan

small_65beras-hitam

Beras hitam ini memiliki nama berbeda-beda, tergantung dimana beras hitam tersebut berada. Di Solo, dikenal dengan Beras  Wulung, di Sleman dengan nama Cempo Ireng atau Beras Jlitheng, di Bantul disebut Beras Melik dan di kawasan  Cibeusi  Subang, beras ini dikenal Beas Gadog. Jaman dahulu konon, hanya petani istimewa saja yang ditunjuk  untuk menanam beras ini, karena khusus untuk keluarga kraton saja. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta siap untuk Baca Selengkapnya