OPTIMALISASI PENYERAPAN HASIL PANEN GERAKAN 100.000 HA TANAM KEDELAI DI KABUPATEN GROBOGAN

 

 

OPTIMALISASI PENYERAPAN HASIL PANEN GERAKAN 100.000 HA TANAM KEDELAI DI KABUPATEN GROBOGAN

Dalam rangka penyerapan hasil panen petani pada gerakan pengembangan kedelai 100.000 Ha di Kabupaten Grobogan Tahun Anggaran 2018, Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan melaksanakan sosialisasi sekaligus rapat koordinasi dengan mengundang sekitar 60 orang pedagang Mitra Bulog dan Pedagang Pengumpul Hasil Bumi Kecamatan se – Kabupaten Grobogan di Aula Rumah Kedelai Grobogan (28-02-2018) beserta Kepala UPT Dinas Pertanian Kecamatan se- Kabupaten Grobogan. Rapat Koordinasi dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Ir.Edhie Sudaryanto, M.M di dampingi Kepala Bidang Tanaman Pangan Dr.Sunanto,S.St,M.P., Kasi AKABI Wahid Mutowal, S.TP., M.Sc. dan Kasi P2HP Tanaman Pangan Nur Widiastuti, S. Si., M. Si.
Rapat koordinasi ini bertujuan untuk mensosialisasikan Program Swasembada Kedelai yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian dan Gerakan 100.000 Ha Tanam Kedelai di Kabupaten Grobogan TA. 2018. Dalam pengarahannya Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan menjelaskan mengapa harus ada program tersebut dikarenakan hampir 100% TEMPE, TAHU dan produk olahan kedelai lain yang ada di Indonesia berbahan baku Kedelai Impor GMO hasil rekayasa genetik, padahal kita memiliki kedelai lokal NON GMO yang pasti lebih fresh, aman dan sehat dikonsumsi.
Beberapa alasan mengapa harus memilih kedelai lokal juga dijelaskan oleh Edhie. Pertama, Kedelai Lokal merupakan produk Petani Indonesia yang semakin tersingkirkan karena hegemoni Kedelai Impor produksi Petani Luar Negeri. Kedua, Kedelai Lokal lebih fresh (lebih segar) karena hasil panen baru, sedangkan kedelai impor biasanya simpanan lama di gudang. Ketiga, karena kandungan protein Kedelai Lokal Varitas Grobogan sangat tinggi (43,9%). Selanjutnya yang paling penting adalah bahwa Kedelai impor umumnya GMO (transgenik), sedangkan Kedelai Lokal Non GMO, sehingga sudah pasti aman dikonsumsi manusia. Beberapa negara telah melarang bahan transgenik dikonsumsi manusia dan/atau wajib mencantumkan lebel Transgenik. Genetically Modified Organism (GMO) adalah hasil proses laboratorium dimana gen dari satu spesies diekstrak, diartifisial dan disisipkan ke dalam tanaman atau hewan lain yang tidak saling berhubungan. Gen asing yang disipkan dapat berasal dari bakteri, virus, serangga, hewan atau bahkan manusia (Jeffrey Smith, Seed of Deception, 2014). Alasan yang terakhir, Edhie menyebutkan sebagai bahan baku tempe dan tahu, Kedelai Lokal Variatas Grobogan memiliki daya serap air 188% dan daya bengkah 150%, sehingga suatu pemahaman yang keliru jika ada yang berpendapat bahwa kedelai lokal tidak dapat mengembang (babar) jika dibuat tempe dan tahu.

“Harga kedelai lokal saat ini tidak wajar, dimana harga kedelai lokal NON GMO harganya sama atau hampir sama dengan kedelai impor GMO. Pemerintah sendiri sebenarnya Tahun 2016 telah menerbitkan Permendag 63/M-DAG/PER/9/2016 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dimana Harga Acuan Penjualan di Konsumen dimakan harga Kedelai Lokal di Tingkat Petani Rp. 8.500/kg dan di Tingkat Konsumen Rp. 9.200/kg, sedangkan harga Kedelai Impor di Tingkat Petani Rp. 6.660/ kg dan di Tingkat Konsumen Rp. 6.800/kg. Hanya saja, peraturan ini belum optimal diaplikasikan di tingkat petani maupun pedagang,” Edhie menambahkan.
“Saya berharap pedagang pengumpul besar kabupaten dan dari kecamatan bisa bersama-sama menyerap kedelai yang ditanam petani saat ini dengan berbagi tugas dalam penyortiran dan pemasarannya. Kedelai lokal kita sudah tidak diragukan lagi kualitasnya sehingga harus dibantu distribusi dan pemasarannya dengan harga yang pantas. Dengan demikian petani tidak merasa dirugikan dan tidak jera untuk tanam kedelai”, kata Edhie.
Kusdi, salah satu pedagang hasil bumi Kabupaten Grobogan mengatakan bahwa sebenarnya pedagang besar di Kabupaten siap membantu mendistribusikan dan menjualkan kedelai petani. Tetapi dengan kadar air kedelai yang sudah 14 sd 15%. Jika kadar air kedelai masih lebih 20%, maka tidak ada pedagang yang mau menumpuk / menyimpan kedelai itu di gudangnya serta tidak berani mengirimnya ke luar kota karena biji kedelai akan rusak terserang jamur. Kusdi menambahkan, bahwa sangat perlu adanya kerjasama dan koordinasi antara pedagang pengumpul desa/kecamatan kepada petani kedelai setempat agar petani menangani pascapanennya dengan baik.
Suparno, pedagang dari Desa Mangunrejo Kecamatan Pulokulon menambahkan, bahwa selama harga kedelai impor masih rendah maka kedelai lokal harganya juga mengikuti kedelai impor. Oleh karena itu, penentuan harga kedelai sebaiknya bersumber dari satu pintu, Dulog misalnya dan untuk impor kedelai sebaiknya jangan diserahkan pihak swasta sehingga harga tidak dipermainkan menyebabkan pedagang kedelai lokal merugi.
Sunanto, Kabid Tanaman Pangan mengatakan, agar kedelai lokal mampu bersaing dipasarkan maka pedagang besar kabupaten bisa melakukan sortasi kedelai yang dibeli. Kedelai yang sudah disortasi dikemas serta diberi label agar meningkatkan nilai jual dan jaminan kualitas. Kedelai yang tersortir dapat dijual sebagai campuran pakan ternak karena potensi pasarnya pun masih terbuka luas. (wieds)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *