PANEN RAYA PADI RATUSAN HEKTAR DI DESA NGELUK KECAMATAN PENAWANGAN KABUPATEN GROBOGAN

PANEN RAYA PADI RATUSAN HEKTAR DI DESA NGELUK KECAMATAN PENAWANGAN KABUPATEN GROBOGAN

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (BALITBANG) Kementrian Pertanian Republik Indonesia Dr.Ir.Muhammad Syakir, M.S., melakukan kunjungan kerja dalam rangka panen padi di Jawa Tengah. Panen raya padi seluas lebih 250 ha dilakukan di Desa Ngeluk Kecamatan Penawangan Kabupaten Grobogan hari ini (11/01/2018).
Pada acara tersebut dihadiri juga oleh Kepala Balai Besar Tanaman Padi Dr.Ir.Moh. Ismail Wahab, M.Si., Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Dr.Ir. Haris Syahbuddin, DEA., Kepala BPTP Jawa Tengah Dr.Ir. Harwanto,M.Si., Bulog Jawa Tengah Rahayu Diyanto, Dandim 0717/Purwodadi Letkol. Arm. Teguh Cahyadi, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Ir. Edhie Sudaryanto, MM. dan Jajaran Muspika Kecamatan Penawangan.

Pada Musim Tanam I ini, produksi padi di Kabupaten Grobogan diperkirakan surplus dan panen terus berlanjut di Jawa Tengah. Kini giliran petani Desa Ngeluk, Kecamatan Penawangan mulai panen raya. Lahan yang siap dipanen hari ini seluas 60 Ha. Terletak pada hamparan tanaman padi seluas kurang lebih 278 Ha milik 3 Kelompok Tani, yaitu Kelompok Tani Subur Makmur (105 ha), Suka Karya (88 ha) dan Suber Makmur (85ha). Sebagian besar varietas yang ditanam adalah jenis Ciherang dengan rata-rata produksi 7-9 Ton/Ha Gabah Kering Panen (GKP).

Petani di Desa Ngeluk merasa sangat beruntung karena memiliki sumber air cukup melimpah untuk mengairi lahan pertaniannya yang bersumber dari Waduk Kedungombo. Indek Pertanaman (IP) disini bisa mencapai 3 kali dalam setahun. Pola tanam yang biasa mereka terapkan adalah padi-palawija-padi atau padi-padi-palawija.

Penggunaan alsintan modern pada saat panen, yaitu dengan menggunakan Combine Harvester terbukti lebih efisien. Menurut petani desa Ngeluk, Combine dapat mengatasi kelangkaan tenaga kerja yang biasa terjadi di desa, serta meminimalisir kehilangan hasil.

“Kita harus optimis dalam mewujudkan Swasembada Pangan di negara kita sendiri. Sinergisasi dalam pendampingan yang didukung infrastruktur dan alat pertanian yang telah di bantukan, akan dinikmati petani dengan tiada hari tanpa tanam tiada, hari tanpa panen, ” Ujar Muhammad Syakir.

”Saat ini petani sudah mulai panen padi, jadi pemerintah sebaiknya tidak perlu impor beras yang bisa berdampak pada harga panenan padi,” kata Ketua Gapoktan Suko Makmur Desa Ngeluk Suwaji.
Menurutnya, petani siap mendukung program tiada hari tanpa panen yang dicanangkan Kementerian Pertanian. Sebagai bukti, panen yang dilakukan saat ini, waktunya lebih awal dari biasanya.

Harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini ditingkat penebas sebesar Rp 4.500,00 dan harga ditingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 5.500,00 per kilogramnya. Sedangkan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Pemerintah sebesar Rp 3.700,00 sehingga terjadi selisih harga sebesar Rp 1.800,00 per kilogramnya dari HET Pemerintah.

Dalam acara Kunjungan Kerja ini, Kepala Balitbang Pertanian Kementrian Pertanian Muhammad Syakir juga menyerahkan bantuan benih padi Varietas Impari 30 secara simbolis pada petani Desa Ngeluk.
”Ini adalah varietas padi terbaru. Kelebihan varietas ini antara lain : umurnya lebih pendek, lebih tahan hama dan genangan air, serta hasilnya lebih tinggi,” kata Syakir.
Ia menambahkan bahwa dalam rangka menyukseskan program tiada hari tanpa panen, pihaknya akan meningkatkan bantuan peralatan pertanian pada petani, yaitu mulai dari alat untuk persiapan lahan, semisal traktor, pompa air hingga peralatan panen dan pasca panen. (ip)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *