PEMANFAATAN LIGHT TRAP DAN PREDATOR ALAMI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA PADA BAWANG MERAH TSS DI DESA PEMAWANGAN

Pemanfaatan Light trap dan predator alami untuk mengendalikan hama ulat pada bawang merah TSS di Desa Penawangan.

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang  sangat fluktuatif  harga maupun produksinya.  Hal ini terjadi karena pasokan produksi yang tidak seimbang antara panenan pada musimnya serta panenan di luar musim, salah satu diantaranya disebabkan tingginya intensitas serangan hama dan penyakit terutama bila penanaman dilakukan di luar musim seperti pada saat musim kemarau saat ini.

Hama yang selalu mengintai dilapangan dan siap untuk menyerbu serta menghancurkan tanaman bawang merah, membuat petani bawang merah dituntut untuk memiliki ketrampilan dan pengetahuan dalam mengenal hama dan penyakit, gejala serangan dan upaya pengendaliannya. Hama Spodoptera exigua Hubn. merupakan salah satu penyebab terjadinya kehilangan hasil panen bawang merah. Serangan hama ini hampir selalu terjadi pada setiap musim tanam. Kehilangan hasil panen akibat serangan hama ini dapat mencapai 62,98 % bahkan kegagalan panen.

Salah satu tehnik pengendalian yang sekarang dikembangkan adalah penggunaan lampu perangkap (Light trap), yang disesuaikan dengan sifat imago yang aktif malam hari dan tertarik dengan cahaya lampu.

Kades Penawangan Tri Joko Purnomo  mencoba melakukan modifikasi dan inovasi dalam pemanfaatan light trap ini untuk menekan serangan hama ulat di lahan tanaman bawang merah asal biji (TSS)nya seluas 5 ha yang terletak di jalan Semarang -Purwodadi di Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan Kabupaten Grobogan.

Ratusan lampu neon yang dipasang di areal sawah itu seringkali menarik perhatian pengendara yang melintas karena terlihat sangat indah. Terutama, saat lampu dinyalakan menjelang magrib. Tampak dari kejauhan terlihat seperti kunang-kunang yang sedang berkeliaran di tengah sawah. Jumlah lampu yang terpasang hampir 300 titik. Lampu dipasang diantara tiang bambu yang berfungsi sebagai tempat menautkan kabel listrik.

Lampu di areal sawah itu dipasang rapi dengan jarak hampir seragam. Kira-kira, tiap jarak lima meter dipasangi satu titik lampu dengan ketinggian tiang 2.5 meter dari permukaan tanah.

“Pemasangan lampu ini merupakan eksperimen untuk menekan hama ulat yang menyerang bawang merah. Setelah dipasang lampu, dampaknya cukup bagus karena ada penurunan serangan pada tanaman,” kata Joko.

Pemasangan lampu itu fungsinya sebagai penarik perhatian atau pemancing buat serangga supaya keluar dari tanaman bawang merah. Keluarnya serangga yang jadi penghasil ulat itulah diikuti dengan datangnya banyak kelelawar di areal sawah. Binatang malam inilah yang akhirnya memangsa serangga yang keluar mendekati sorot lampu tersebut.

“Kelelawar ini jenis pemakan serangga. Kelelawar jenis ini merupakan salah satu predator alami serangga,” jelas Joko yang juga menjadi Ketua Kelompok Tani Niaga Tani Desa Penawangan itu.

Joko menjelaskan, serangga yang bersarang pada tanaman bawang merah karena butuh tempat untuk bertelur. Telur itu menempel pada daun dan setelah menetas jadi ulat-ulat kecil. Ulat inilah yang kemudian memakan daun bawang merah usia muda.

Untuk membasmi ulat tersebut tidak mudah. Ketika serangan mengganas, butuh beberapa kali penyemprotan insektisida dalam satu hari. Itupun, terkadang hasilnya belum bisa maksimal.

“Jika tidak dikendalikan, dalam semalam, hama ulat ini bisa menghabiskan tanaman bawang merah. Hama ulat inilah yang jadi salah satu momok petani bawang merah,” kata Joko.

Joko menjelaskan, tanaman bawang merah di lahan sawahnya usaianya tidak seragam. Paling tua berusia 40 hari. Ada sebagian lahan yang usia tanamannya sekitar 15 hari. Kemudian, beberapa lahan lainnya baru ditanami bawang merah beberapa hari lalu.
Penanaman bawang merah asal biji (TSS) ini dilakukan dengan metode Tanam Benih Langsung dan Transplanting tanpa naungan untuk menghemat biaya produksi.
Setelah dipasang lampu, serangan hama ulat turun drastis dibandingkan sebelum dikasih penerangan tersebut. Kondisi ini bisa terjadi karena sudah banyak serangga yang dimakan predator alami sehingga tidak sampai bertelur pada tanaman.
Guna menekan serangan hama, salah satu solusinya adalah mencegah agar serangga jangan sampai bertelur. Sebelum memakai lampu, berbagai motode untuk mengurangi serangga sudah pernah dicoba. Namun, sejauh ini hasilnya dinilai kurang maksimal dibandingkan setelah menggunakan lampu.

Ratusan lampu mulai dipasang sekitar 20 hari lalu. Lampu dipasang diketinggian 2,5 meter dari tanah. Posisi lampu dipasang cukup tinggi untuk memudahkan kelelawar menyambar mangsa.

Untuk pemasangan lampu penerangan di lahan hampir 5 hektar itu, Joko menghabiskan dana sekitar Rp 15 juta. Biaya itu sudah termasuk ongkos tukang khusus yang memasang jaringan instalasi listrik.

“Investasi awal memang terlihat cukup besar. Tetapi, kalau dihitung ketemunya murah. Soalnya, instalasi ini bisa dipakai dalam jangka panjang. Tidak hanya sekali pakai saja,” cetusnya.

Setelah 20 hari dipasangi lampu, serangga yang singgah pada tanaman bawang merah mulai berkurang. Kondisi ini, berimbas dengan berkurangnya frekuensi penyemprotan insektisida pada tanaman yang menjadikan biaya perawatan turun. Sejak dipasang lampu, penyemprotan tanaman hanya dilakukan 2 kali dalam seminggu. Sebelumnya, dalam sehari, penyemprotan bisa dilakukan dua kali.

Soal biaya operasional dinilai Joko tidak terlalu besar. Setiap hari, lampu dinyalakan selama 12 jam, mulai pukul 17.30 sampai 05.30. Dalam sehari, ongkos yang dikeluarkan sekitar Rp 40 ribu untuk beli solar mesin genset.

Joko mengaku, metode menekan hama bawang merah dengan lampu penerangan sudah mulai diadopsi beberapa petani lainnya. Bahkan, petani dari Kecamatan Klambu juga mulai memasang lampu penerangan karena hasilnya dinilai cukup bagus.

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *