Pemanfatan Alsintan dalam Menekan Susut Hasil Panen

*Pemanfatan Alsintan dalam Menekan Susut Hasil Panen*

Sebagai bahan pangan pokok sumber karbohidrat, beras dipandang sebagai komoditas strategis bagi bangsa Indonesia, sehingga ketersediaan beras perlu terus dijaga kestabilannya. Peningkatan produksi beras tidak hanya terbatas pada peningkatan produksi pada tahap prapanen _(on farm)_, tetapi juga melalui perbaikan pada cara penanganan pascapanen _(off farm)_. Permasalahan utama dalam produksi beras nasional adalah tingginya kehilangan hasil (susut) selama penanganan pascapanen.

Berbagai upaya dan cara produksi padi hanya bisa dinaikkan sebesar 8,04 persen, sementara padi yang hilang percuma karena kesalahan prosedur pengelolaan pasca panen justru lebih dari itu yaitu mencapai 12 -14%. Seandainya angka kehilangan panen tersebut bisa dipangkas beberapa persen saja dan target peningkatan produksi bisa terwujud maka produksi beras nasional akan melonjak banyak. Bahkan kalau produksi padi tidak lagi bisa dinaikkan (karena banjir atau faktor lain), asalkan kita bisa menekan angka kehilangan panen maka produksi beras nasional akan tetap bisa meningkat.

Dalam upaya menekan angka kehilangan hasil panen padi, maka Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan telah mengadakan *Pelatihan Penanganan Pascapanen Padi* untuk Petugas dan Petani se Kabupaten Grobogan dengan tujuan optimalisasi penggunaan alsintan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan alsintan untuk mengurangi susut hasil panen dan menambah nilai (daya saing) komoditas.

Pelatihan dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) gelombang, yaitu tanggal 20 Maret 2018 di Kecamatan Gubug, tanggal 26 Maret 2018 di Kecamatan Toroh dan tanggal 28 Maret di Kecamatan Kradenan.
Pelatihan diikuti oleh kurang lebih 120 orang petugas dan petani padi se – Kabupaten Grobogan. Sebagai narasumber dalam pelatihan tersebut yaitu: Kasi P2HP TP, Nur Widiastuti, S.Si., M.Si., Kasi Tanaman Padi dan Serealia ., Sis Susmaedi, SP. dan Petugas Susut Hasil Kabupaten Grobogan.

Dalam pelatihan tersebut dipelajari kegiatan pascapanen yang meliputi proses pemanenan dan perontokan padi, pengeringan gabah, penggilingan dan penyimpanan beras yang baik dan benar.

Widiastuti dalam penjelasannya menyebutkan bahwa berbagai tahapan proses pengelolaan pasca panen yang menyebabkan ‘lenyapnya’ padi perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah tahap perontokan padi. Angka kehilangan yang mencapai 4,8 % terlalu banyak bila dibanding dengan upaya peningkatan produksi yang sangat susah diwujudkan. Oleh karena itu, cara-cara perontokan padi model tradisional, yang terbukti membuat banyak padi hilang percuma perlu segera ditinggalkan dan diganti dengan teknologi baru yang lebih efisien dan baik. Para petani perlu lebih banyak mempergunakan thresher dan alat perontok moderen yang terbukti bisa menekan angka kehilangan panen (wieds).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *