Embung dan Dam Parit

Embung adalah bangunan konservasi air berbentuk kolam/cekungan untuk menampung air dari hujan, parit atau sungai kecil, mata air serta sumber air lainnya untuk mendukung usaha pertanian pangan/ hortikultura), perkebunan dan peternakan. Dam parit adalah suatu bangunan konservasi air berupa bendung kecil pada parit – parit alamiah atau sungai – sungai kecil yang dapat menahan air dan meningkatkan tinggi muka air untuk disalurkan sebagai air irigasi.
Tujuan :

  1. Menampung air hujan dan aliran perukaan (run off) pada wilayah sekitarnya serta sumber air lainnya yang memungkinkan seperti mata air, parit, sungai – sungai kecil dan sebagainya.
  2. Menyediakan sumber air sebagai suplesi irigasi untuk tanaman pangan, hortikultura semusim, tanaman perkebunan semusim dan peternakan.

Syarat Teknis
1.   Embung

  • Di daerah atau sekitar daerah pertanian/ perkebunan/ peternakan yang memerlukan pasokan air dari embung sebagai suplesi air irigasi.
  • Terdapat sumber air yang dapat ditampung baik berupa aliran permukaan saat hujan, mata air, parit atau sungai kecil dengan volume air yang memadai.
  • Untuk embung galian yang sumber airnya dari limpasan air hujan (run off) harus mempunyai daerah tangkapan air, agar volume air yang masuk ke embung mencukupi.
  • Terdapat alur/ cekungan – cekungan tempat melintas/ berkumpul air, sehingga lokasi tersebut secara alami sudah kedap air, memudahkan menampung air dan tidak banyak memerlukan biaya untuk galian dan pembuatan tanggul

2.   Dam Parit

  • Terdapat parit – parit alamiah atau sungai – sungai kecil dengan debit air yang memadai untuk keperluan irigasi.
  • Terdapat saluran air untuk menghubungkan dam parit ke lahan usahatani yang akan diairi.
  • Bila belum/tidak ada saluran, maka petani bersedia membuat saluran air secara partisipatif.
  • Letak dam parit harus memperhatikan kemudahan dalam membendung dan memdistribusikan air serta struktur tanah yang kuat untuk pondasi bendung.

Syarat Lokasi
1.   Embung

  • Embung dibangun pada cekungan diantara 2 punggung bukit (gully) tempat mengalirnya aliran permukaan saat terjadi hujan, dengan membendung pada bagian bawahnya. Pada lokasi seperti ini, luasan tangkapan air (catchment area) harus cukup sehingga aliran permukaannya dapat mengisi embung.
  • Embung dapat juga dibangun dengan membendung parit atau sungai kecil sehingga terbentuk dam parit. Pada lokasi ini kemiringan parit/sungainya dicari yang agak landai sehingga volume tampungan airnya maksimal
  • Diupayakan lahan tempat embung dibangun tidak porus. Bila terpaksa dibangun di tempat yang porus, maka dasar embung harus dilapis (linning/plastik/tanah liat/geotekstil)
  • Di daerah atau sekitar daerah pertanian/ perkebunan/ peternakan yang memerlukan pasokan air dari embung sebagai suplesi air irigasi
  • Bendung dapat ditempatkan sehingga volume tampungan embung optimal. Oleh karenanya kemiringan lahan sebaiknya antara 4 – 6%.

2.   Dam Parit

  • Terdapat parit – parit alamiah atau sungai – sungai kecil dengan debit air yang memadai untuk keperluan irigasi.
  • Terdapat saluran air untuk menghubungkan dam parit ke lahan usahatani yang akan diairi.
  • Bila belum/tidak ada saluran, maka petani bersedia membuat saluran air secara partisipatif.
  • Letak dam parit harus memperhatikan kemudahan dalam membendung dan memdistribusikan air serta struktur tanah yang kuat untuk pondasi bendung.

Syarat Petani
Persyaratan petani/kelompok tani untuk dibantu pembangunan embung/dam parit adalah :

  • Telah terbentuk Kelompok Tani/P3A.
  • Diutamakan Kelompok Tani/P3A yang mempunyai semangat partisipatif.
  • Kelompok Tani/P3A terpilih belum pernah mendapat bantuan sejenis.
  • Bersedia menyediakan lahan tanpa ganti rugi yang dinyatakan dalam surat pernyataan bermaterai cukup.
  • Bersedia mengoperasikan dan memelihara bangunan yang dinyatakan dalam surat pernyataan.

Survey, Investigasi, Desain (SID)
Penanggung jawab kegiatan (Dinas Pertanian Kabupaten/Kota) melakukan survey untuk menentukan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
Setelah menentukan CPCL, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bersama dengan petani/kelompok tani dan petugas penyuluh lapangan (PPL) membuat desain. Desain diusahakan sesederhana mungkin agar dapat dipahami oleh pelaksana (petani/kelompok tani) di lapangan. Hal-hal prinsip mengenai desain sebaiknya dikonsultasikan kepada ahli atau yang berpengalaman dalam mendesain embung/dam parit.
Desain embung/dam parit dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat, antara lain topografi lahan, sumber air yang digunakan, jenis tanah, jenis usahatani. Namun demikian secara umum penyusunan desain embung perlu memperhatikan hal – hal sebagai berikut :

  1. Mudah dalam pengambilan sumber airnya, untuk itu embung sebaiknya berada di bawah daerah tangkapan air atau di jalur lintasan aliran permukaan (mata air, parit, sungai kecil). Keberhasilan pembangunan embung sangat ditentukan oleh kemudahan dalam pengisian airnya.
  2. Kapasitas tampung embung sebesar mungkin, untuk itu sedapat mungkin mencari lokasi cekungan dan tempat melintas/berkumpul air, kedap air, sehingga dapat menekan biaya untuk galian dan pembuatan tanggul/dinding.
  3. Diupayakan mempunyai komponen bangunan yang lengkap agar embung kuat, dapat berfungsi optimal dan memudahkan dalam operasional dan pemeliharaan. Komponen tersebut antara lain terdiri dari saluran masuk beserta bak kontrol, badan embung, bendung, pelimpas, pintu penguras, pintu keluar/irigasi. Desain embung sudah memperhitungkan adanya sedimentasi yang masuk dan kemudahan perawatan. Kekuatan bendung harus diperhitungkan adanya volume puncak. Dimensi dan posisi komponen – komponen bangunan tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi setempat.
  4. Mudah dan efisien dalam penyaluran airnya, untuk itu posisi embung sebaiknya dekat dan berada lebih tinggi dari pada lokasi lahan usaha tani dan air irigasi dapat diberikan secara gravitasi.

Dalam penyusunan desain dam parit perlu diperhatian hal – hal sebagai berikut :
1. Penempatan bendung yang paling efisien dalam biaya dan penyaluran air.
2. Sebaiknya dekat dengan saluran irigasi yang sudah ada.
3. Konstruksinya kuat menahan debit puncak.
4. Mudah dalam operasional dan pemeliharaan.
Karena komponen biaya pembuatan dam parit tidak termasuk saluran irigasinya, maka pembangunan ini dapat digunakan untuk membuat/merehab bendung – bendung pada irigasi desa yang menggunakan parit sebagai sumber airnya dan telah rusak. Dimungkinkan juga kegiatan ini dipadukan dengan kegiatan pengembangan irigasi permukaan.

Konstruksi
1.  Embung
a.  Bendung dan Pelimpah
Bendung berfungsi untuk membendung, menahan dan meninggikan permukaan air. Pada bagian bendung ini harus dilengkapi dengan pelimpah yang berfungsi untuk menyalurkan/melimpaskan air secara langsung saat volume air melebihi kapasitas tampungan embung. Oleh karena itu konstruksi bendung harus kuat. Pada bagian pelimpas perlu dibuat kolam olak agar air yang melimpah tidak merusak bendung. Bendung bisa terbuat dari pasangan batu atau tanah, namun pada bagian pelimpasnya harus terbuat dari pasangan batu/cor.
b.  Pintu Penguras
Bangunan ini sangat penting untuk perawatan dan menjaga volume tampungan embung. Berfungsi untuk menguras dan membersihkan sedimen yang ada dalam embung serta untuk mengosongkan seluruh isi embung bila diperlukan untuk perawatan. Pintu bisa berupa pintu sekat balok atau pintu sorong, bahkan jika sumber air yang digunakan tidak membawa sedimen, dimungkinkan saluran penguras cukup dibuatkan saluran dari pipa yang bisa dibuka/tutup.
c.  Pintu/Saluran Pemasukan (Inlet)
Kebutuhan bangunan ini disesuaikan dengan kondisi lapangan.Berfungsi untuk mengarahkan air agar mudah masuk ke dalam embung dan
menyaring kotoran/sedimen yang mungkin masuk ke embung. Untuk itu pada saluran ini perlu dibuat bak kontrol atau penyaring kotoran

d.  Pintu Irigasi/Saluran Pengeluaran (Outlet)
Berfungsi untuk mengatur air untuk irigasi ke lahan pertanian.Pintu irigasi bisa berupa sekat balok atau pintu sorong. Jika elevasi lahan
pertanian lebih tinggi daripada embung, pembuatan saluran pengeluaran tidak diperlukan, sedangkan pemanfaatan airnya bisa
menggunakan pompa
2.  Dam Parit

  • Talud/Jagaan (free board), berfungsi untuk menjaga pinggir parit tidak tergerus oleh air dan akan menjadi pegangan bendung.
  • Bangunan bendung/pelimpah, berfungsi untuk membendung aliran/ meninggikan muka air di parit dan sekaligus melimpahkan air saat volume air melebihi kapasitas tampung c. Pengendali/Pintu Air, berfungsi untuk mengatur volume air yang akan dialirkan ke lahan usaha tani melalui saluran irigasi. Pengendali/pintu air ini dapat dibangun di samping atau di pinggir bendung
  • Pintu penguras, berfungsi untuk menguras dan membersihkan  bendung  dari kotoran dan sedimentasi
  • Saluran irigasi, berfungsi menyalurkan air dari bendung ke lahan usaha tani
  • Kolam olak, berfungsi agar air yang terjun melalui pelimpas tidak merusak bendung.
  • Komponen bangunan dam parit tersebut juga dapat disederhanakan untuk menekan biaya konstruksi, misalnya pintu penguras hanya terbuat dari pipa paralon. Saat musim hujan saluran ini dibuka untuk mengurangi sedimen di bendung.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *