Petani di Grobogan Andalkan Tugal Khusus buat Tanam Jagung di Lahan Mlethek Grobogan

Petani di Grobogan Andalkan Tugal Khusus buat Tanam Jagung di Lahan Mlethek Grobogan – Sebuah alat sederhana dibuat petani untuk memudahkan penanaman jagung pada lahan sawah yang kondisi tanahnya mlethek (merekah) saat kemarau. Salah satunya adalah petani di Desa Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo yang tahun 2017 ini mendapatkan program Peningkatan Indeks Pertanaman (PIP) Jagung Hibrida seluas 276 hektar dari Provinsi Jawa Tengah.
Untuk memudahkan tanam jagung pada lahan minim air, petani menciptakan sebuah tugal khusus. Tugal khusus ini dibuat dari pipa besi berukuran 0,5 inchi. Panjang tugal sekitar 1,5 meter dan pada bagian atasnya diberi pegangan.
Alat sederhana juga dilengkapi sebuah pijakan berlubang yang posisinya sekitar 30 cm dari atas mata tugal. Pijakan ini berfungsi sebagai rembesan air untuk memudahkan tugal saat ditancapkan ke dalam tanah serta menjaga kelembaban yang diperlukan buat menunjang pertumbuhan tanaman jagung.
Saat kondisi kering, titik tancapan tugal ditempatkan pada sela-sela tanah yang merekah atau dalam bahasa Jawa disebut nelo. Kedalaman tancapan tugal bisa mencapai 30 cm.
Setelah lubang dibuat, benih jagung dimasukkan kedalamnya dan ditutup tipis-tipis. Tujuannya agar benih jagung yang tumbuh bisa lebih mudah menembus lubang tanam. Petumbuhan awal tanaman akan terlihat sekitar 7 hari setelah tanam (HST). Pada fase awal, tanaman jagung terlihat seperti rumput. Namun, pada usia 14 HST, kondisi tanaman akan berangsur-angsur normal dan tampak kokoh ketika sudah menembus rekahan tanah serta terkena sinar matahari.
Setelah dipupuk dengan kocoran pada 21 HST, batang tanaman akan terisi dengan sempurna. Selanjutnya tanaman jagung dikocor sekali lagi pada umur 35 HST dan setelah itu tinggal menunggu masa panen.
Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto mengungkapkan, areal tanam jagung di lahan yang tanahnya merekah pada musim kemarau itu luasnya sekitar 40 hektar. Menurutnya, pada musim kemarau seperti itu, petani mengoptimalkan pemanfaatan lahannya dengan merekayasa irigasi sistim kocor. Dengan rekayasa ini, pengocoran yang biasanya dilakukan 4 kali bisa berkurang jadi 2 kali saja.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *