Teknik Budidaya Ubi Jalar

Syarat tumbuh ubi jalar
Ketinggian 500-1000 m dpl, Suhu optimal 250C-270C, Curah hujan 750-1500 mm/tahun, pH tanah 5,5-7,5
Jenis tanah pasir berlempung, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik

PENGGUNAAN VARIETAS UNGGUL
Daya, Borobudur, Prambanan, Muara Takus, Mendut, Kalasan, Cangkuang, Sewu, Cilembu, Sari, Boko, Sukuh, Jago, Kidal, Shiroyutake, Papua Solossa, Papua Pattipi, Nagara KB-1, Sawentar, Beta 1, Beta 2, Kuningan Putih dan Kuningan Merah

BIBIT/STEK

  • Kebutuhan bibit
  • jarak tanam 100 x 25 cm adalah ± 32.000 stek/ha
  • jarak tanam 75 x 30 cm adalah ± 35.555 stek/ha
  • Bibit dari stek Batang/Pucuk
  • diambil dari varietas/klon unggul
  • tanaman telah berumur 2 bulan atau lebih, keadaan pertumbuhannya sehat dan normal
  • panjang stek 20-25 cm, ruas dan buku-bukunya tidak berakar dan mengalami masa penyimpanan ditempat teduh selama 1-7 hari
  • Bibit dari tunas-tunas ubi
  • ubi dipetik yang cukup tua, sehat dan berukuran 3 telur ayam
  • ubi ditanam pada lahan khusus penunasan dengan jarak 70×30 cm
  • setelah bertunas dan berumur ³ 2 bulan dilakukan pemotongan tanaman (bibit) sama   seperti pada stek batang/pucuk

PENYIAPAN LAHAN
Lahan tegalan

Lahan dibersihkan dari gulma, lalu tanah digemburkan dengan cangkul atau  bajak sambil membenamkan rumput-rumput liar kemudian dikering anginkan selama 1 minggu. Buat guludan-guludan dengan lebar 60 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar guludan 70-100 cm, panjang guludan disesuaikan dengan keadaan lahan.

Lahan Sawah bekas Tanaman Padi
Babat jerami sebatas permukaan tanah, kemudian tanah diolah dengan cangkul atau bajak diluar bidang tumpukan jerami kemudian tanah ditimbun pada tumpukan jerami sambil membentuk guludan-guludan dengan ukuran lebar 60 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar guludan 70-100 cm, panjang guludan disesuaikan dengan keadaan lahan.

PENANAMAN DAN JARAK TANAM

  • Di lahan kering dilakukan pada awal musim hujan (Oktober)
  • Di lahan sawah ditanam setelah padi rendengan (padi gadu), pada awal musim kemarau
  • Sistem tanam secara tunggal (monokultur) dan atau tumpang sari
  • Untuk mendapat ubi besar, stek ditanam miring (60-70 derajat) dengan dua ruas ditanam diguludan, sedangkan untuk mendapatkan ubi kecil, posisi stek dalam tanah ditanam rata, dengan 3-4 ruas stek tanaman didalam guludan dan ujung stek miring ± 600 (bentuk L). Jumlah bibit satu stek per lubang. Sebaiknya penanaman dilakukan pada pagi atau sore hari. Jarak tanam dalam barisan 25-35 cm sedangkan jarak barisan 100-150 cm

PEMBERIAN MULSA
Setelah bibit ditanam, tanah ditutupi dengan mulsa jerami 20 t/ha khususnya di lahan sawah, sedangkan di lahan kering bila jerami tidak ada, dapat ditutup dengan pangkasan pupuk hijau.

PEMUPUKAN
Pupuk Organik
dosis = 15-22 t/ha
pemberian dilakukan pada saat pengolahan tanah (dicampur dengan tanah) atau sekaligus sebagai mulsa
Pupuk Anorganik
dosis : Urea = 100 kg/ha; KCl = 100 kg/ha; SP-36 = 75-100 kg/ha (atau sesuai rekomendasi setempat)
pemberian :  1) 1/3 dosis Urea dan semua SP-36 pada saat pertanaman bibit serta 1/3 dosis KCl
2) pemberian kedua pada saat tanaman berumur 30-45 hari setelah tanam bersamaan dengan pengembalian tanah keprasan kedua sisi guludan.
cara pemberian : buat larikan/lubang tugal 7-10 cm dari kiri kanan lubang tanam, lalu masukan pupuk.

PENYULAMAN
Untuk mengganti tanaman yang mati dilakukan pada umur 3 minggu setelah tanam. Sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari.

PEMANGKASAN
Dilakukan bila tanaman terlalu rimbun, dilakukan pada sulur-sulur tanaman yang merayap dalam saluran-saluran di sela-sela bedengan.

PENGAIRAN
Dilakukan tiap 10 hari selama pertumbuhan sampai 2 minggu sebelum panen dengan cara dileb selama 15-30 menit kemudian air disalurkan ke saluran pembuangan. Sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari.

PENGENDALIAN GULMA
Yang pertama dilakukan 3 minggu setelah tanam vertikal kedua sisi guludan (dikepras), kemudian tanah keprasan dikembalikan sekaligus untuk menutup pupuk.
Yang kedua dilakukan pada 8 minggu setelah tanam sekaligus melakukan pembumbungan dan pemutusan akar yang tumbuh dipermukaan guludan.

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT
Hama dan penyakit utama yang menyerang ubijalar adalah hama Penggerak Ubijalar; hama Boleng atau Lanas; Tikus; Penyakit Kudis atau Scab; Layu Fusarium; virus; dan penyakit lainnya. Pengendalian tanaman dari OPT dilakukan secara terpadu, sebagai berikut :
Secara kultur teknis, diantaranya mengatur waktu tanam, rotasi tanaman, sanitasi lahan, dan penggunaan varietas yang tahan hama dan penyakit.
Secara fisik dan mekanis, yaitu dengan memotong atau memangkas atau mencabut tanaman yang sakit atau terserang hama dan penyakit cukup berat, kumpulkan dan musnahkan.
Secara kimiawi yaitu dengan menggunakan pestisida secara selektif dan bijaksana.

PANEN
Waktu panen ubijalar didasarkan atas umur tanaman, jenis atau varietas
Ubijalar berumur pendek (genjah) dapat dipanen pada umur 3–3,5 bulan, sedangkan varietas berumur panjang (dalam) dipanen pada umur 4,5–5 bulan
Panen dilakukan dengan cara memangkas batang ubijalar, kemudian menggali guludan dengan cangkul/sekop/luku lalu umbinya diambil dan dikumpulkan ditempat pengumpulan
Diseleksi dan disortasi berdasarkan ukuran umbi dan warna kulit dan disimpan dalam wadah atau goni

PASCA PANEN
Selain dikonsumsi langsung, ubijalar dapat diolah menjadi produk dalam bentuk pati maupun tepung. Pati dibuat dengan mengekstrak umbi yang telah diparut. Sedangkan tepung diperoleh dengan mencuci umbi, mengupas, mengiris, menjemur, dan menghancurkan (menepungkan), diayak pada ukuran 80 mesh. Pati dan tepung ubijalar dapat digunakan untuk membuat aneka jenis kue, mie dan es krim.
Bila hendak disimpan, baiknya diruang bersuhu kamar antara 270C-300C dengan kelembaban udara antara 85%-90%. Disimpan diruang gelap dengan mengikutsertakan tangkai ubi yang agak panjang, atau disimpan didalam pasir dan abu dengan mengangin-anginkan.
Disimpan diruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk dan peredaran udaranya baik dengan cara menumpahkan ubi dilantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu tertutup. Atau disimpan diatas para-para yang ditempatkan didapur yang biasanya terkena asap setiap hari yang berasal dari tungku hal ini dapat menghindarkan dari serangan hama terutama boleng.

Sumber : ePetani

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.